Jumat, 21 November 2014

Diare Banyak Menyerang Bayi dan Balita

Galakkan cuci tangan untuk menghindari diare


           Rembang-Memasuki musim pancaroba seperti ini membuat kasus diare maupun disentri diwilayah rembang mengalami peningkatan, sepanjang tahun 2014 ini rumah sakit Dr R Soetrasno dipastikan merawat pasien diare tetapi frekuensi atau jumlah pasienya tidak begitu banyak dibandingkan bulan bulan ini.

            Hal Tersebut disampaikan oleh Dokter Mayasari Dewi Dokter  Spesialis anak Rumah Sakit Dr R. Soetrasno saat ditemui Reporter cb fm pagi tadi(21/11).

 Maya mengatakan saat ini di RSUD sudah merawat sekitar 12 pasien penderita  diare atau disentri. Penyebabnya bermacam-macam ada karena virus juga bisa akabit disentri yang disebabkan oleh bakteri . Faktor penyebarannya  dari kuman yang biasanya melalui makanan yang kurang higines.

Apalagi akhir akhir ini sedang musim mangga dan banyak sekali lalat sehingga dari lalat tersebutlah kuman kuman bisa terbawa, Disamping itu  juga bisa melalui udara yang menghinggap di makanan yang bersih sehingga makanan tersebut terkontaminasi. 

 Penyebaran diare Juga bisa melalui kebersihan tangan dimana anak anak tidak cuci tangan pada saat memasukan makanan didalam mulut , musim pancaroba  dari musim kemarau menjadi musim penghujan yang mengakibatkan daya tahan tubuh anak menjadi turun sehingga mengakibatkan anak tersebut menjadi sakit .

Maya menyatakan Diare biasanya menjadi berat bila pasien mengalami dehidrasi,perlu diketahui dehidrasi ada tingkatan misalnya pasien diare tanpa dehidrasi itu bisa dirawat dirumah karena anaknya bisa mengkonsumsi minum dengan baik, tetapi ada juga yang sudah tingkat berat dimana anak tersebut tidak mempunyai tenaga untuk minum sehingga harus mengambil tindakan infus .yang diberikan cairan yang dibutuhkan anak sehingga mentabolisme selnya itu kembali seperti sedia kala.

 Cara menanggulangi paling gampang yaitu cuci tangan karena salah satu upaya yang murah dan mudah, sebab cuci tangan hanya membutuhkan kesadaran dari masyarakat, sehingga untuk melakukan cuci tangan sebaiknya sebelum atau sesudah makan atau setelah dari kamar mandi.( Yudha)


Tambah pemasangan warning light

Kepala Dinhubkominfo saat beraudensi


Kaliori-Pemerintah kabupaten Rembang, segera memasang warning light (lampu peringatan berwarna kuning yang berkedip-kedip), di pertigaan desa Banyudono, kecamatan Kaliori yang rawan terjadinya kecelakaan. 

Hal itu disampaikan oleh kepala Dinas Perhubungan dan Informatika (Dinhubkominfo) kabupaten Rembang- Suyono dalam kegiatan audiensi/dialog Pelaksana Tugas Bupati Rembang dengan masyarakat, di pendopo kecamatan Kaliori, (20/11).

          Suyono mengatakan pemasangan warning light di pertigaan desa Banyudono sedang diproses oleh pemerintah kabupaten Rembang. Saat ini baru tahap suvey. 

            Suyono mengucapkan terima kasih kepada Kepolisian Resort Rembang utamanya Kepolisian sektor Kaliori, yang selama ini telah menurunkan petugasnya untuk mengatur arus lalu lintas di pertigaan di wilayah kecamatan Kaliori seperti pertigaan Banyudono, pertigaan Matalan, Pertigaan ojek Dresi Kulon, pertigaan Masjid desa Tambakagung. Sehingga dapat mengurai kemacetan di jalur pantura pada saat orang kerja maupun siswa sekolah.

            Sebelumnya, kepala desa Banyudono- Mohamad Thoha meminta kepada Pemkab Rembang untuk memasang Warning Light di pertigaan Banyudono mengingat di jalur itu menjadi jalur transportasi masyarakat yang akan kerja baik di pabrik perikanan dan kantor dinas/instansi maupun jalur transportasi anak sekolah.

            Selain itu menurut Mohamad Thoha di jalur tersebut  rawan kecelakaan karena kondisi median jembatan sempit, sehingga tidak bisa untuk berpapasan kendaraan dari dua arah. Kecuali salah satunya berhenti di jalur pantura sebelum masuk ke jalan desa Banyudono.(Masudi )  

30 Tahun mengurus Mayat.

Ngatiman memanfaatkan waktu luang untuk nonton TV


Rembang-Ngatiman, pegawai RSUD DR R Sutrasno kini telah berusia 58 tahun dan separuh lebih usianya berurusan dengan mayat. Hal itu tak lepas dari tugasnya sehari-hari sebagai staff pemularasaan pada kamar jenazah, khususnya menangani semua jazad yang masuk di ruang tersebut.  

            Pria yang akrab disapa Pak Man itu menceritakan masa lalunya bekerja di RSUD tahun 1985 pada awalnya bertugas sebagai tukang kebun dan sekira empat tahun kemudian saat petugas kamar jenazah pensiun ada tawaran untuk menggantikan. Walau tak memiliki pengalaman merawat dan menangani mayat, dia menyatakan sanggup bahkan terus belanjut hingga kini.

            Disinggung apakah keputusan menerima tugas baru yang justru merupakan hal menakutkan bagi orang lain, Ngatman menuturkan yang paling penting yakni ijin dan restu dari istinya dengan pertimbangan keluarga butuh dinafkahi. Namun diakuinya bahwa kali pertama bertugas memang sempat dihinggapi rasa jerih tetapi karena hari-hari berikutnya selalu menghadapi mayat, maka akhirnya menjadi terbiasa dan mampu menepis rasa takut. 

            Lebih lanjut Pak Man menjelaskan tugas yang diemban terasa berat mana kala mayat yang dikirim dalam kondisi cerai berai dan pihak keluarga menginginkan diperbaiki agar terlihat mendekati normal. Berbekal keahlian secara otodidak yang dimiliki, luka yang robek dijahit supaya rapat dan tulang belulang yang patah disambung ke tempatnya dengan cara dilekatkan menggunakan perban dimana untuk tugas lain tersebut sedikitnya membutuhkan waktu satu jam.    

            Menurut Pak Man, pada tahun pertama bekerja dia hanya diberi upah Rp10 ribu per bulan dan terus bertambah tiap tahun sampai sekarang mencapai jumlah Rp520 ribu. Meski kini telah berusia 58 tahun dan separtuh lebih usianya berkutat dengan mayat terlebih sebatas berstatus pegawai honorer di RSUD, sepertinya dia belum berniat mundur dari pekerjaan lantaran belum ada penggantinya.

            Pak Man tambahkan, untuk menghilangkan rasa jenuh dari rutinitas pekerjaan yang tergolong seram itu waktu luang dimanfaatkan mengelola area perkebunan seluas 1 hektare yang dibeli dari hasil menabung selama dirinya bekerja. Dua tanaman yang dibudidayakan yaitu pohon kelapa dan tebu merupakan sumber penghasilan terbesar bagi keluarganya dan sebagian besar diinvestasikan dalam wujud biaya pendidikan bagi tiga anaknya. (heru )

Bangun embung Kalinanas

Plt bupati saat Audensi dengan Masyarakat kaliori


kaliori-Untuk mengatasi keperluan air pertanian di wilayah kecamatan Kaliori dan Sumber, pemerintah pusat akan membangun embung di desa Kalinanas, kecamatan Japah, kabupaten Blora. Hal itu disampaikan oleh Pelaksana Tugas (Plt) Bupati Rembang- H. Abdul Hafidz, saat audiensi / dialog dengan masyarakat kecamatan Kaliori, di pendopo kecamatan setempat, hari Kamis (20/11).

             Abdul Hafidz mengatakan, pembangunan embung di kabupaten Blora dengan pemanfaat warga kabupaten Rembang itu telah dikoordinasikan oleh Pemerintah pusat melalui Menteri Pertanian Republik Indonesia.

            Abdul Hafidz berharap dengan adanya pembangunan embung Kalinanas, dapat menjadikan kecamatan Kaliori dan kecamatan Sumber di tahun 2017 mempunyai pertanian irigasi teknis sehingga indeks menanamnya yang biasanya 1 kali menjadi 2 kali.

      Sebelumnya, pada tahun 2000an pemerintah kabupaten Rembang, telah merencanakan pembangunan embung Randugunting di desa Kedungtulup, kecamatan Sumber. Setelah Detail Engineering Design (DED/ gambar kerja detail) sudah jadi, terdapat kelemahan-kelemahan seperti banyaknya sedimen, sehingga pembangunan embung yang dapat mengairi areal persawahan sekitar 1.590 hektar, diantaranya 162 hektar berada diwilayah kecamatan Sumber dan 1.428 hektar di wilayah kecamatan Kaliori akhirnya gagal direalisasikan.( Masudi )

Pengajuan Akta Kelahiran Disertai Data Pendukung Valid



Sedan- Semua warga Rembang dihimbau untuk memiliki akta kelahiran. Hal ini karena akta merupakan bukti otentik yang menjadi dasar hukum perdata yang mengikat seseorang, dan akan berdampak pada hukum waris, perwalian, hingga kepentingan pendidikan seorang anak.

Hal ini disampaikan oleh kepala Dinas Kependudukan Dan Catatan Sipil (Dindukcapil) kabupaten Rembang Daenuri dalam acara dinamika pembangunan di kecamatan Sedan. Daenuri mengatakan, pihaknya berkomitmen dapat melayani pembuatan akta dengan cepat namun pengajuannya harus sudah membawa persyaratan lengkap yang sudah ditentukan berupa data pendukung meliputi surat kenal lahir, akta nikah orang tua, KTP orang tua, serta dibarengi dengan adanya seorang saksi.

Sementara bagi anak yang tidak diketahui orang tuanya ex anak terlantar, harus didukung dengan berita acara temuan anak terlantar dari kepolisian. Tanpa adanya berita acara dari kepolisian dan ijin dari pengadilan, pihaknya tidak dapat menerbitkan akta atas nama anak tersebut.

Daenuri menegaskan, dalam pembuatan akta kelahiran tidak bisa dilakukan dengan serta merta tanpa adanya data pendukung. Hal ini mengingat bahwa lingkup kerja dindukcapil berada dalam lingkup hukum yang akuntabel dan harus ada pertanggungjawaban.

Mengingat bahwa akta ini akan mempunyai banyak dampak bagi kehidupan seorang anak kedepannya. Maka, diharapkan semua warga masyarakat sadar akan pentingnya akta kelahiran serta validitas data penunjang terkait status anak yang menjadi dasar diterbitkannya akta. Sehingga tidak ada lagi pemohon yang datang tanpa menyertakan persyaratan yang telah ditetapkan. (ita )