Selasa, 21 Oktober 2014

BLH Wacanakan Laboratorium Alam Mangrove

Hutan mangrove


Rembang-Pasca kawasan hutan mangrove di Desa Pasarbanggi Kecamatan Rembang ditetapkan sebagai lokasi wisata, Badan Lingkungan Hidup (BLH) setempat mewacanakan tempat tersebut juga memberikan manfaat di bidang edukasi. Dalam pembahasan APBD tahun depan telah diusulkan pembiayaan program laboratorium alam dan diharapkan mendapat persetujuan dari angota dewan.

Kepala BLH Kabupaten Rembang, Purwadi Samsi  menyampaikan keberadaan hutan mangrove Pasarbanggi harus memberikan manfaat lebih bagi masyarakat. Oleh karena itu selain menjadi tujuan wisata sekaligus diinginkan berdaya guna dalam hal pendidikan dengan terbentuknya laboratorium alam.

Melalui wahana tersebut sambung Purwadi Samsi, kalangan siswa sekolah dan mahasiswa dapat melakukan study dan penelitian budidaya tanaman mangrove. Pihaknya berharap tahun depan sudah terealisasi mengingat besarnya dampak positif bagi dunia pendidikan baik di tingkat lokal maupun nasional. 

Menurut Purwadi Samsi pihaknya juga terus berupaya menambah luasan hutan mangrove dan dilakukan simultan setiap tahun, dari hasil pendataan diketahui sebelumnya memiliki luasan 22,5 hektare kini mencapai 26 hektare. Penambahan populasi tanaman mangrove diarahkan sisi timur, dimana pada lokasi tersebut dijumpai sedimentasi dan dijadikan sasaran penghijauan agar memberikan manfaat lebih dibanding dikeruk yang menelan banyak biaya.

Ditambahkan, BLH tak hanya fokus menambah luasan area hutan mangrove saja namun sepanjang pesisir pantai wilayah setempat juga dipedulikan, program penghijauan dilakukan menyebar di kecamatan lain sebagai tindak lanjut program Kementrian Lingkungan Hidup dalam penanganan abrasi pantai di kabupaten/kota pesisir. Tahun ini dijadwalkan ditanam bibit mangrove sebanyak 1.300 batang, khususnya di bibir pantai yang terancam abrasi yang  pelaksanaannya direncanakan pada akhir November nanti. ( heru )


Pilkada Rembang diundur September

Akhsanudin bersama Muspika dalam kegiatan rakor kepala desa di  kecamatan kaliori


Kaliori-Pasca turunnya Peraturan Presiden Pengganti Undang-undang (Perppu) No 1 tahun 2014 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati dan Walikota, Pemilihan Kepala Daerah (pilkada) kabupaten Rembang ditunda bulan September. 

Hal itu disampaikan oleh Kepala bagian tata pemerintahan Setda Rembang- Akhsanudin, dalam rapat koordinasi kepala desa, di pendopo kecamatan Kaliori, baru-baru ini.

Akhsanudin mengatakan ditundanya pelaksanaan Pilkada di Kabupaten Rembang bersamaan dengan pelaksanaan pilkada di 13 kabupaten/kota di Jawa Tengah. 

Akhsanudin menjelaskan penundaan pilkada berdasarkan surat edaran (SE) dari Komisi Pemilihan Umum (KPU) Pusat nomor 160/10/2014, yang mengamanatkan supaya menunda tahapan Pilkada di kabupaten Rembang untuk mengisi kekosongan jabatan kepala daerah kabupaten Rembang yang akan berakhir 20 Juli 2015. 

Akhsanudin menerangkan Pilkada Rembang masuk periode pertama yang direncanakan dilaksanakan bulan Maret dan April. Seandainya sudah jalan, sudah memasuki proses pembentukan kelengkapan pelaksanaan Pilkada baik pembentukan Kelompok Panitia Pemungutan Suara (KPPS) dan tempat Pemungutan Suara (TPS). Sehingga awal Oktober sudah disiapkan anggaran  2 Milyar rupiah dari APBD Perubahan 2014, karena tidak ada kegiatan uang tidak dicairkan. 

Sebelumnya KPU daerah Rembang telah menjadwalkan Pilkada akan digelar pada 4 Mei 2015.(Masudi )

Kebakaran hutan KPH mantingan turun



Rembang-Jumlah Kebakaran hutan diwilayah Perum Perhutani KPH Mantingan untuk di tahun 2014 mengalami penurunan bahkan sampai saat ini belum ada, berbeda dengan  jumlah kebakaran hutan pada tahun 2013 yang lalu.

Humas Perhutani KPH Mantingan Ismartoyo mengatakan jumlah kebakaran hutan sampai sekarang di tahun 2014 ini, masih 0 hektar ini merupakan hasil dari kerja keras KPH mantingan yang selalu melakukan sosialisasi.

Sosilisasi ini dibantu oleh mantri untuk disampaikan kepada petani hutan, , petani hutan dihimbau untuk tidak membersihkan lahan dengan cara membakar  jika tetap membakar harus ditunggui sampai api mati.

Pihaknya Juga memasang spanduk,yang bertuliskan himbauan untuk tidak membakar lahan, karena dengan kemarau panjang seperti saat ini , potensi untuk terjadinya kebakaran hutan sangat besar.

Ismartoyo mengungkapkan bilamana ada informasi kebakaran hutan,pihak lapangan selalu melapor ke KPH Mantingan ,kalau memang ada tetapi  skalanya kecil bisa diatasi sendiri , dan biasanya dimungkinkan  hanya pembakaran lahan.

Dari data  ditahun 2013 lalu sudah ada sekitar 4-7 hektar hutan yang terbakar ,sedangkan ditahun 2014 sampai bulan ini masih 0 hektar dari luasan KPH Mantingan 16,877 sekian hektar, kebanyakan berada di Resor Pemangku Hutan (RPH) Pamotan dan RPH Mantingan yang potensi untuk kebakaran hutan sangat besar.

Ismartoyo menambahkan KPH Mantingan mempunyai 21 RPH dan 6 bagian kesatuan pemangkuan hutan (BKPH) wilayah administrasi Rembang dan Blora.dan kebanyakan kebakaran hutan bukan dari faktor alam tetapi dari faktor manusia.( Yudha ).

Human Error mendominasi kejadian kebakaran



Sluke-Terjadinya  musibah kebakaran sebagian di sebabkan oleh ulah dan kesalahan manusia (human error),  seperti musibah kebakaran  lahan tebu di desa Pangkalan Sluke beberapa waktu yang lalu,  diakibatkan  ulah anak yang bermain petasan nyaris melalap seluruh lahan tebu di desa Pangkalan.

Kasi Trantib Kecamatan Sluke Bambang Suharyanto mengatakan, sampai saat ini di wilayah kecamatan Sluke kondisinya relatif aman dari bahaya kebakaran baik desa yang di atas pegunungan seperti desa Bendo dan desa di bawah seperti desa Sluke. Tercatat  hanya ada satu kasus kebakaran lahan tebu di desa Pangkalan itupun cepat teratasi berkat kesigapan warga desa, 

Sebenarnya potensi bahaya kebakaran ada di sekitar kita, seperti pada saat memasang instalasi listrik yang tidak standar, beban massa listrik yang terlalu berlebihan pada kabel listrik, kebocoran pada selang regulator, membakar sampah di lingkungan pemukiman warga maupun di ladang persawahan,  

Untuk itu diingatkan perlu berhati hati setiap akan melakukan segala aktifitas yang langsung berhubungan dengan api, di karenakan musibah kebakaran yang terjadi masih di dominasi kesalahan manusia. 

Bambang Suharyanto menambahkan, sebenarnya musibah kebakaran dapat di cegah apa bila warga mau mentaati tata aturan yang ada,  bila  terjadi kebakaran segera  padamkan api dengan peralatan yang tersedia dan jangan ragu dalam memadamkan api pada tahap awal kejadian kebakaran untuk meminimalisir kerugian. ( Heri )



Dekatkan pelayanan warga melalui Pustu



Sale-Untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan kepada warga, UPT Puskesmas Kecamatan Sale mempuyai 5 puskesmas pembantu (Pustu) yang tersebar di 14 desa di Kecamatan Sale, yakni pustu desa Ukir, Sumber Mulyo, Tahunan, Tengger dan Pustu desa Mrayun.

Kepala UPT Puskesmas kecamatan Sale Teguh wibowo mengatakan, puskesmas pembantu merupakan ujung tombak terdepan dalam memberikan kemudahan warga untuk memperoleh layanan kesehatan yang cepat, sekaligus dekat dengan pemukiman warga,

 Dengan sarana dan prasarana yang ada pustu  sebagai tempat rujukan dan layanan pertama bagi warga desa yang mengalami ganguan kesehatan sebelum di rujuk ke berbagai rumah sakit atau puskesmas induk yang sudah ada tempat rawat inapnya seperti di puskesmas sale. 

Teguh wibowo menambahkan, dengan adanya pustu yang tersebar di lima desa bisa lebih mendekatkan warga yang ingin memeriksakan kesehatannya, selain itu yang utama adalah PNS yang bertugas di pustu harus memberikan pelayanan terbaiknya kepada warga yang membutuhkan pelyanan kesehatan, 

Selain itu kinerja seluruh PNS yang di tempatkan di Pustu, harus lebih di tingkatkan kinerjanya, dengan memberikan pelayanan maksimal kepada warga,  selanjutnya petugas harus turun ke lapangan dan jemput bola di wilayah kerjanya masing masing, untuk lebih mendekatkan pelayanan kesehatan bagi warga. yang membutuhkan. (  Heri )